Jadi guru idealnya bisa “digugu dan ditiru” jangan sampai menjadi tumbal jaman yang “wagu dan saru”

Jadi guru idealnya bisa "digugu dan ditiru" jangan sampai menjadi tumbal jaman yang "wagu dan saru".

Didepan siswa para guru adalah partner belajar dan menyampaikan pesan moral positif kepada setiap peserta didiknya. Diluar kelas ketika dikantor atau di ruang guru, mereka tetaplah guru yang lingkup bicaranya bermartabat dan bermanfaat, cerdas dan membangun budaya intelektual yang bertanggungjawab. Kadang hal ini terlewatkan dalam jadwal harian seorang guru, terlena dengan pembicaraan yang sangat menarik tentang topik paling panas saat itu, membicarakan kasus selebritis atau pemain panggung politik sampai persoalan ranjang suami istri, tertawa terbahak-bahak dan bergurau saling mengejek atau bahkan berlarian kejar-kejaran diruang itu persis anak TK. Tentu hal itu hanya ilustrasi ekstrim saja yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, hanya mungkin terjadi di sinetron Indonesia. Betulkah?…

Atau penampilan super cool yang berhati-hati dengan tiap kata-katanya, tidak bergurau, tidak berdialog kecuali tentang pelajaran atau hal akademis lainnya, tentu tidak bukan? ruang guru akan menjadi gerbong kematian kedua yang menggerogoti para populis yang butuh terakomodir kebutuhan khususnya.Yang paling pas adalah yang pertengahan. Semua yang "terlalu" mengindikasikan kelebihan menuju keburukan, terlalu ramai, terlalu sepi, terlalu kaya, terlalu miskin, tapi kalau terlalu pintar… mungkin baik-baik saja ya?. Sikap pertengahan ini akan membawa suasana yang kondusif bagi semua pihak dengan semua karakter yang ada. Perbedaan sifat dan sikap akan terjembatani oleh adanya zona pertengahan ini. Lalu siapa yang akan menjadi duta di zona pertengahan ini, apakah setiap guru mempunyai tugas ini, atau beberapa wakil saja yang berkarakter cool ’n funny? atau ini arena bebas yang bisa dimasuki siapa saja? atau mungkin ini urusan Humas? atau kepala sekolah?

Bukan masalah siapa dan kapan tapi apa dan bagaimana.

Setiap pihak dengan kombinasi yang unik dari karakter masing-masing akan mampu menghadirkan zona pertengahan ini sehingga suasana perang, atau panggung lawak yang rasis dan vulgar atau suasana horor yang mencekam tidak terjadi berkelanjutan. Kalau terjadi hanya sesekali dan tidak berlebihan tentu itu adalah bentuk keanekaragaman hayati kan? tentu tidak apa-apa, tapi kalau berulang-ulang atau bahkan menjadi jadwal harian bisa berakibat fatal bagi pertumbuhan otak dan keselamatan jiwa manusia :grin: , paling tidak budaya intelektual yang bertanggungjawab tidak akan terbangun dengan baik.

Menjadi guru idealnya bisa ’digugu dan ditiru" , simbiose mutualisme antar guru dapat membangun ekosistem yang lebih bermartabat dan bermanfaat. Manjadikan mereka para guru lebih pintar tiap harinya, setiap masuk kelas adalah angin yang menyegarkan para muridnya, setiap keluar kelas diiringi applouse selamat jalan menuju pundi-pundi ilmu yang lebih banyak. Ketika diruang guru, mereka mengabarkan pengetahuan yang berwawasan kedepan, sarat ilmu, dan mencerdaskan, nasihat-nasihat, hikmah dan motivasi, dialog spiritual, dan keakraban antar teman sejawat, tata usaha dan atasan yang indah dan menyejukkan.

Ketika kita berkonsentrasi pada bagaimana mendidik murid-murid kita dengan baik, ada baiknya juga kita rehat sejenak dan melihat dunia lain diruang yang lain, yang kadang dijalani tiap hari, tapi tidak kita sadari telah menggerogoti hidup kita, menuju kemunduran kualitas diri.

5 Tanggapan

  1. semoga jargon “digugu dan ditiru” tetap terjaga ūüôā

    salam

    • Semoga demikian, tapi saya yakin kebanyakan guru-guru kita adalah pengemban amanah yang handal, pantas digugu dan ditiru. Trims sudah mampir di blog ini END!

  2. predikat-predikat sebagai orang yang digugu dan ditiru, atau wagu tur saru,
    boleh disandang guru siapapun
    tetapi itu tidak terukur dan kurang memberi semangat

    • itu memang sekedar predikat yang sulit diukur ya… tapi oleh masing2 pribadi mungkin bisa membuat ukuran untuk diri masing-masing, tidak jauh dari dua kutup baik – buruk. Trimakasih sekali telah berkunjung di blog ini. END!

  3. Guru “digugu dan ditiru” bisa dalam kebaikan atau keburukan. tergantung konten selanjutnya. Tapi secara umum guru diinterpretasikan untuk hal-hal positif..ya itulah guru sekolah.. Nek pengalaman saya, hal yang paling efektif untuk mengajar ketika menjadi guru adalah keteladanan.. JANGAN CUMA OMONG DOANG !!
    Selamat berkarya wahai para guru membangun jiwa, moral, akhlak dan intelektual manusia..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: