Sekolah Pinggiran dan Perjuangan Mencerdaskan Anak Bangsa

Sekolah pinggiran identik dengan sekolah tidak favorit dan kurang bermutu, apakah ini benar? tentu saja tidak selalu, ada banyak sekolah pinggiran dan tidak favorit yang bermutu, hanya saja karena letaknya "dipinggir" ia kadang luput dari perhatian. Perhatian masyarakat, wali murid, pengambil kebijakan dan dinas yang bertanggungjawab. Masalah tanggungjawab mencerdaskan anak bangsa dan perluasan akses pendidikan, tidak kalah dengan sekolah favorit, bahkan mereka lebih besar lagi perjuangannya, menuntaskan wajib belajar sembilan tahun dengan sarana-prasarana yang terbatas, mensukseskan program sekolah gratis dengan dana yang terbatas, melaksanakan kurikulum dengan sumber daya seadanya, belum lagi ditambah dengan input yang dibawah rata-rata kemampuan akademisnya, semua itu adalah pernak-pernik perjuangan sekolah pinggiran mengantar anak didiknya menggapai cita-cita. Kadang mereka harus realistis dengan kenyataan yang benar-benar ada dilapangan, mengelola lembaga yang bertanggungjawab kepada peserta didik, masyarakat, orang tua wali, pemerintah, dan Tuhan, tentulah bukan hal yang mudah. Mengoptimalkan apa yang ada untuk mendapatkan kombinasi yang terbaik dari berbagai sumber daya yang terbatas, harus dilakukan agar amanat kurikulum dapat dituntaskan dengan baik dan proses pembelajaran dapat bermakna bagi siswa, serta tujuan pendidikan dapat tercapai.

Peserta didik dengan segala keunikannya adalah sama saja dihadapan pengemban amanah ini, baik mereka yang kaya atau miskin, pintar atau tidak pintar, yang rajin atau malas, yang ranking satu atau ranking terakhir, yang pendiam atau trouble maker, yang punya cita-cita melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau yang "hanya" punya cita-cita membantu ayah ibu dirumah. Mereka semua berhak atas layanan pendidikan di negeri ini. Tidak ada pembedaan bagi mereka mendapatkan akses pendidikan yang sama dan setara. Kalau kenyataannya mereka dari kelompok menengah kebawah (dalam semua katagori) hanya bisa bersekolah di sekolah pinggiran, apakah berarti mereka hanya berhak atas layanan pendidikan kelas menengah kebawah, yang segala-galanya terbatas? tentu tidak. Mereka berhak atas pendidikan yang berkualitas sama dengan semua anak sebayanya di negeri ini. Disinilah tugas para pengemban amanah dibuktikan, sekolah yang menerima mereka sebagai peserta didik mempunyai tanggung jawab untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan tepat sasaran, dengan sumber daya yang terbatas, para "pinggiran" ini harus lebih banyak berjuang dan berkorban untuk mencapai tujuan nasional : mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kebanyakan dari kita setuju bahwa ini adalah tugas mulia, mencerdaskan anak bangsa!, dan tentu demikian juga bagi para pelaku pendidikan, mereka mengemban langsung tugas mulia ini dengan segala kesadaran, segala konsekuensi, segala keterbatasan. Kemuliaan sesungguhnya memang tidak tergantung pada atribut kefavoritan atau segala prestasi membanggakan, tapi pada proses yang sungguh-sungguh memberikan yang terbaik kepada seluruh anak didiknya. Pengemban amanah ini menyadari peran dan kedudukannya, di bagian paling "pinggir" sekalipun mereka tetap dapat melaksanakan tugas mulia ini dengan kemuliaan yang sesungguhnya.

diposting dengan Post2Blog .

5 Tanggapan

  1. Info yang sangat menarik, trim’s. saya sangat setuju dengan “Sekolah pinggiran memang tidak identik dengan tidak bermutu”

  2. Sekolah gratis ada dimana-mana…. atau dimana saja? sekolah pinggiran itu untuk menampung orang-orang pinggiran alias jauh dari keramaian kota.. tetep semangat biar di pucuk gunung sekalipun…

  3. mantap………….q suka……………….

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: