Wisata Sejarah Jeron Benteng

25 April 2010, Minggu pagi yang basah oleh gerimis tidak menyurutkan lajuku menuju Benteng Vredenburg. Sekitar jam 07.20 pagi rombongan Field Study Jeron Benteng mulai menyusuri jalanan di O km Yogyakarta menuju Musium Sono Budoyo di sebelah utara Alun-alun Utara Yogyakarta. Kegiatan yang digagas oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Musium Benteng Vredenburg ini diikuti sekitar 200 peserta dari para guru sejarah, mahasiswa dan pemerhati sejarah.

Musium Sono Budoyo menyimpan koleksi benda-benda bersejarah yang cukup banyak, mulai dari zaman prasejarah seperti artefak dari zaman batu, perunggu dan besi. Zaman sejarah Hindu Bhuda, Zaman Islam dan juga terdapat koleksi berbagai batik dan wayang. Pada kunjungan kali ini mendapat kesempatan masuk ke ruang koleksi benda-benda yang terbuat dari emas, konon katanya ruang koleksi ini tidak dibuka pada hari-hari biasa.. (benarkah??).
Musium ini juga sudah dilengkapi dengan monitor touchscreen yang ditempatkan di beberapa ruangan dan dapat digunakan oleh pengunjung untuk mengakses informasi mengenai segala macam koleksi yang ada di musium ini.
Setiap benda yang dipamerkan dikelompokkan dalam satu tempat display dimana terdapat keterangan berkait dengan koleksi itu, tapi sayang keterangann itu tidak cukup lengkap sehingga informasi yang kita dapat sangat terbatas, misalnya pada koleksi prasasti, disitu terdapat peninggalan prasasti pada batu, lempengan logam dan tulisan pada daun lontar. Tidak ada keterangan tentang tahun, isi dan sebagainya.

Perjalanan berikutnya menuju Kraton Yogyakarta, melalui pintu belakang penyusuran kraton dimulai dengan dipandu oleh pemandu yang fasih menceritakan tentang detil bangunan dan benda-benda yang ada di Kraton Yogyakarta, mulai dari nama-nama bangunan, ruang, simbol-simbol pada ornamen bangunan, sampai dengan berat “gembok” pintu gerbang. Simbolisasi di lingkungan kraton sangat kental, mulai dari posisi bangunan, ornamen, pohon yang ditanam, jumlah pohon sampai dengan pasir yang digunakan menutupi semua halaman di lingkungan kraton. Koleksi lain yang menarik adalah peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX, terdapat koleksi semua benda yang pernah digunakan oleh Sri Sultan semasa hidup, mulai dari pelana kuda, alat fotografi, sampai dengan kompor dan bumbu-bumbu masakan yang tersimpan rapi dalam botol-botol kecil.

Perjalanan dilanjutkan ke Taman Sari, Taman dengan kolam air yang luas ditengah-tengahnya ini hanya berjarak sekitar 500 meter sebelah selatan Kraton. Taman Sari konon merupakan tempat rekreasi keluarga kerajaan, juga tempat para putri kraton membatik.

Tempat selanjutnya adalah Sumur Gemuling yang berada tidak jauh dari kolam Taman Sari, sebuah ruangan dalam tanah yang lengkap dengan lorong-lorong dan ruangan melingkar diatasnya dan sebuah lubang ditengahnya. Tempat ini konon digunakan untuk ruang sholat. Juga ada kisah tentang jalan rahasia dari sumur ini menuju laut Selatan.

Pengembaran satu hari ini kemudian menuju Ndalem Kanoman, di tempat ini peserta diberi kesempatan  ishoma dan kemudian mengikuti Seminar “Peranan Kawasan Jeron Benteng Dalam Sejarah Perkembangan Kraton Yogyakarta” . Seminar ini menghadirkan pembicara Raden Tumenggung Tirun Marwoto SH, yang merupakan humas Kraton Yogyakarta. Beliau membahas berbagai hal yang berkaitan dengan Kraton Yogyakarta dengan cukup menarik, salah satu topiknya mengenai Perubahan Tugu Jogja, tugu Jogja yang terkenal itu ternyata sudah mengalami perubahan dari bentuk semula, bentuk dan tinggi tugu sudah berubah, tulisan yang terdapat pada prasastinya juga sudah berubah, dulu golong-gilig sekarang menjadi wiworo harjo manggolo projo.

Dari Dalem Kanoman perjalanan dilanjutkan ke Masjid Agung, disini para peserta diberi penjelasan oleh pihak Takmir masjid mengenai Masjid Agung, sejarah dan keterangan mengenai bagian-bagian masjid. Masjid Agung berdiri pada 1187 H / 1773M pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, didalam masjid ini terdapat beberapa ruangan/bagian : Ruang Utama (ruang sholat), Serambi ( Al Makamah Al Kabiroh), Yatihun (tempat rapat para Imam), Pasucen, Pawudhon, Blumbang, perpustakaan, pagungon, dan Arobah (tempat memandikan jenazah).

Studi Lapangan kawasan Jeron Beteng ini akhirnya berakhir sekitar jam 15.00 wib, para peserta  kembali ke alamat masing-masing dengan membawa pengalaman dan wawasan yang lebih baru  tentang sejarah dari kawasan Jeron Benteng yang kaya peninggalan sejarah.

6 Tanggapan

  1. Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Wisata kepulau Bali”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan tolong dikomentarin yaaa. Makasiiih.

  2. terimakasih kunjungannya… salam kompak dan sukses juga untuk mas Haris
    Oke segera meluncur keblog anda…. sippp

  3. Hai…salam kenal…
    Saya suka baca postingan yang nyeritain tentang sejarah seperti ini…
    Sebenernya uda beberapa kali saya mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan…
    Tapi membacanya berulangkali juga ga akan pernah bosen kok..
    Selalu asyik..
    Silakan mampir ke blog saya ya…
    Mungkin kita bisa tukar wawasan…

  4. hai… salam kenal juga. Terimakasih, setuju! : bagian dari kenikmatan hidup ketika kita bisa menyertakan bagian-bagian dari proses kehidupan masa silam menjadi pelajaran bagi kehidupan yang kita jalani.
    Oke langsung menuju blog Anda..

  5. aku jadi pengin pulang nengokin malioboro yang entah sudah berapa tahun tidak aku susuri (padahal dulu aku sering nawarin gelang kulit di situ)

    salam kenal Guss, silahkan mampir dihalaman mimpipribumi

    • salam kenal juga Mimpi, semoga suatu saat nanti bisa kembali mengembarakan segala indra dikeramahtamahan Jogja yang masih terasa..

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: