Museum Sandi


Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995 tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum. Lembaga Sandi Negara bekerjasama dengan Kementerian Kebudayan dan Pariwisata berupaya melestarikan nilai-nilai sejarah persandian sebagai bagian integral perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain itu juga sebagai media penanaman nilai patriotisme untuk mewariskan nilai perjuangan kepada generasi penerus khususnya segenap insan persandian melalui sebuah museum yang dinamakan Museum Sandi.

Museum Sandi mmenampilkan berbagai jenis koleksi mengenai persandian. Museum Sandi menempati areal dasar (basement) bangunan Museum Perjuangan, Jl. Kolonel Sugiyono No. 24 Brontokusuman Yogyakarta 55143 Telepon (0274)412656.

Museum ini dibangun atas prakarsa bersama antara Kepala Lembaga Sandi Negara RI Ke-3 Mayjen TNI (Purn) Nachrowi Ramli, S.E dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 2006 dan diresmikan pada tanggal 29 Juni 2008.

Bangunan Museum Sandi
Museum Sandi berada di dalam komplek Museum Perjuangan yang terdiri dari dua lantai. Gedung Museum Perjuangan berbentuk bulat dengan garis tengah 30 meter dan tinggi 17 meter, dengan gaya arsitektur Ronde Tempel (perpaduan gaya Romawi kuno dengan gaya timur). Arsitek Bangunan adalah Prof. Dr. Suwardi. Gedung Museum Perjuangan secara simbolis mencerminkan tanggal kemerdekaan Bangsa Indonesia. Di sisi luar depan terdapat sengkalan “Anggatra Pirantining Kusuma Negara” yang menunjukkan tahun berdirinya museum yaitu tahun 1959. Koleksi Museum Sandi menempati areal basement bangunan, sedang lantai atasnya digunakan untuk koleksi Museum Perjuangan Yogyakarta.

Jam Buka Museum Sandi
Senin-Kamis jam 08.30 – 15.00 WIB
Jumat jam 08.30 – 11.30 WIB
Sabtu-Minggu dan Hari Besar Nasional/Keagamaan tutup

Alur Museum Sandi

  • Sejarah kegiatan persandian dalam lingkup sejarah Indonesia (termasuk pada masa mempertahankan Kemerdekaan RI) dan sejarah persandian dunia.
  • Sejarah perkembangan ilmu persandian yang dibagi menjadi dua yaitu Sistem Kriptografi Klasik, seperti Caesar Chiper, Alberti Disc, Cardan Grille, Vigenere dan Sistem Kriptografi Modern seperti Algoritma DES, Pertukaran Kunci Diffie Hellman, RSA, dan  Rijndael (AES)
  • Evolusi peralatan sandi buatan Indonesia dan buatan luar negeri yang pernah digunakan dalam kegiatan persandian

Koleksi Museum Sandi

  1. Barang asli atau replika mesin/peralatan sandi, meubeler, tag, sepeda, patung/menekin, etalase (barang keseharian pelaku sejarah sandi), slide sistem, serta sistem-sistem sandi lainnya dan sebagainya.
  2. Dokumen berupa buku kode, lembaran kertas, dan sebagainya.
  3. Gambar-gambar berupa foto, peta (napak tilas sandi), lukisan (kegiatan sandi di dalam perundingan), dan sebagainya.
  4. Diorama berupa suasan di  Pedukuhan Dukuh, kegiatan kurir sandi dan lainnnya.
  5. Fasilitas multimedia berteknologi touchscreen.

Transportasi Ke Museum Sandi

  • Jalur Bus Kota Nomor 1, 2, 5, 9, 15, 16, 17
  • Jalur Trans Jogja Trayek 1A, 2A, 2B, 3A, 3B (turun di depan Museum Perjuangan Jl. Kol. Sugiyono, Yogyakarta.

Tiket Masuk

  • GRATIS

————————–
Sumber : Leaflet Museum Sandi yang dibagikan kepada penulis dalam “Sosialisasi Museum Sandi” – Cryptography Goes to School di Aula SKB Wonosari, tanggal 10 Oktober 2011

Sumber foto : http://www.lemsaneg.go.id/images/stories/museum/museum%20edit%20copy.jpg

2 Tanggapan

  1. Muridnya layak untuk diajak ke sana Pakdhe!

    • itulah tujuan sosialisasi Musium Sandi sebagaimana yang disampaikan pak Syahrul Mubarak dari Lembaga Sandi Negara kemarin.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: