Prediksi Soal CPNS 2009

Ujian tertulis CPNS 2008 yang lalu, untuk seluruh wilayah Yogyakarta dikabarkan seragam, soal disusun bekerjasama dengan Universitas Gadjah Mada. Ujian seleksi CPNS tahun 2009 mungkin tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2008, atau paling tidak dengan mengetahui model soal tahun 2008 dapat lebih siap bertempur di medan para pejuang ini : Seleksi CPNS 2009.

Pada tahun 2008 soal dikemas dalam satu bendel, dengan satu lembar jawab komputer bolak-balik. Soal terdiri dari sekitar 200 butir pilihan ganda (multiple choice) dengan 5 pilihan (a, b, c, d dan e). Macam soalnya kurang lebih adalah sebagai berikut :

Bagian pertama (50 soal) : berisi soal-soal tentang Pancasila, UUD 45, GBHN, Peraturan pemerintah, Sejarah, Kebijakan pemerintah, Pengetahuan dasar Bahasa Indonesia, matematika dasar

Bagian kedua (50 soal) : berisi soal-soal kepribadian dan pengembangan diri

Bagian ketiga (50 soal) : berisi soal-soal Bahasa Inggris dengan beberapa text bacaan, vocabulary, grammar, dan lain-lain, dari pembicaraan teman-teman yang ikut bertarung di Yogyakarta soal bahasa Inggris ini termasuk sulit, karena kata-kata yang digunakan dalam soal-soal bacaan terutama, cukup asing ditelinga (telinga para awam ya, tapi kalau Anda sudah biasa pasti tidak masalah )

Bagian keempat (50 soal) : berisi soal-soal Komputer (TIK), soal tentang komputer ini berkisar pada penggunaan program office dan internet yaitu : Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Powerpoint, Internet Explorer, browsing dan email. Soal yang dipertanyakan antara lain tentang istilah-istilah berkaitan dengan program office, shortcut program, menu pada toolbar, dan pengetahuan cara menggunakan program-program ini.

Apabila desainnya masih sama, mungkin soal seleksi CPNS 2009 khususnya wilayah Yogyakarta tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, Anda yang bersiap-siap bertarung dalam ajang akbar ini dapat mempersiapkan diri lebih baik dengan memprediksi macam soal yang seperti apa yang akan diujikan.Siapkan diri lebih awal tentu akan lebih baik, jangan bosan dan segan untuk membaca-baca lagi buku-buku lama Anda berkaitan dengan : Pancasila, Pembukaan UUD 45, amandemen UUD 45, bab, pasal, ayat dan penjelasan UUD 45, GBHN, Undang-Undang Pemilu, UU ketenagakerjaan, Tata negara Indonesia, Peraturan pemerintah, Kebijakan pemerintah, ekonomi, lingkungan hidup, Kepegawaian di Indonesia, Sejarah Indonesia : mulai dari sejarah kerajaan, datangnya penjajah Portugis, Belanda, Inggris, sampai Jepang, sejarah seputar Kemerdekaan 17 Agustus 1945 seperti : PPKI, BPUPKI, konsep Pancasila, Sejarah berkaitan dengan agresi militer Belanda ke I dan ke II serta perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Pergerakan Nasional Indonesia, Bahasa Indonesia, Matematika dasar : seperti rumus-rumus bangun, deret ukur dan deret hitung, Psikologi pengembangan diri, dan kepribadian, Bahasa Inggris : tenses, grammar, vocabulary, Komputer : program-program office dan internet : Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Powerpoint, Internet Explorer, browsing dan email.

Perubahan adalah keniscayaan, tapi dengan sejarah masa lalu, paling tidak Anda bisa memprediksi kemungkinan-kemungkinan di masa depan, dan jika perubahan terjadi sekalipun, Anda akan lebih siap menghadapinya… Semoga!

UPDATE :

Materi ujian CPNS Pemkab Sleman tahun 2009 :

a. Tes Bakat Skolastik
b. Tes Pengetahuan Umum, meliputi bidang : Ideologi (Pancasila, UUD 1945) Politik (Sistem Adm.Negara RI, Pemerintahan Daerah, Politik Luar Negeri)  Ekonomi (Teori Ekonomi, Sistem Ekonomi Indonesia)
 Sosial Budaya (Sejarah, Pluralisme) Hankam (Wawasan Nusantara, Sistem Hankam) Hukum (Teori Hukum, HAM, Pengaturan Demokrasi)
c. Tes Pengetahuan Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi
(sumber : website pemkab Sleman)

 

Sekolah Pinggiran dan Perjuangan Mencerdaskan Anak Bangsa

Sekolah pinggiran identik dengan sekolah tidak favorit dan kurang bermutu, apakah ini benar? tentu saja tidak selalu, ada banyak sekolah pinggiran dan tidak favorit yang bermutu, hanya saja karena letaknya "dipinggir" ia kadang luput dari perhatian. Perhatian masyarakat, wali murid, pengambil kebijakan dan dinas yang bertanggungjawab. Masalah tanggungjawab mencerdaskan anak bangsa dan perluasan akses pendidikan, tidak kalah dengan sekolah favorit, bahkan mereka lebih besar lagi perjuangannya, menuntaskan wajib belajar sembilan tahun dengan sarana-prasarana yang terbatas, mensukseskan program sekolah gratis dengan dana yang terbatas, melaksanakan kurikulum dengan sumber daya seadanya, belum lagi ditambah dengan input yang dibawah rata-rata kemampuan akademisnya, semua itu adalah pernak-pernik perjuangan sekolah pinggiran mengantar anak didiknya menggapai cita-cita. Kadang mereka harus realistis dengan kenyataan yang benar-benar ada dilapangan, mengelola lembaga yang bertanggungjawab kepada peserta didik, masyarakat, orang tua wali, pemerintah, dan Tuhan, tentulah bukan hal yang mudah. Mengoptimalkan apa yang ada untuk mendapatkan kombinasi yang terbaik dari berbagai sumber daya yang terbatas, harus dilakukan agar amanat kurikulum dapat dituntaskan dengan baik dan proses pembelajaran dapat bermakna bagi siswa, serta tujuan pendidikan dapat tercapai.

Peserta didik dengan segala keunikannya adalah sama saja dihadapan pengemban amanah ini, baik mereka yang kaya atau miskin, pintar atau tidak pintar, yang rajin atau malas, yang ranking satu atau ranking terakhir, yang pendiam atau trouble maker, yang punya cita-cita melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau yang "hanya" punya cita-cita membantu ayah ibu dirumah. Mereka semua berhak atas layanan pendidikan di negeri ini. Tidak ada pembedaan bagi mereka mendapatkan akses pendidikan yang sama dan setara. Kalau kenyataannya mereka dari kelompok menengah kebawah (dalam semua katagori) hanya bisa bersekolah di sekolah pinggiran, apakah berarti mereka hanya berhak atas layanan pendidikan kelas menengah kebawah, yang segala-galanya terbatas? tentu tidak. Mereka berhak atas pendidikan yang berkualitas sama dengan semua anak sebayanya di negeri ini. Disinilah tugas para pengemban amanah dibuktikan, sekolah yang menerima mereka sebagai peserta didik mempunyai tanggung jawab untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan tepat sasaran, dengan sumber daya yang terbatas, para "pinggiran" ini harus lebih banyak berjuang dan berkorban untuk mencapai tujuan nasional : mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kebanyakan dari kita setuju bahwa ini adalah tugas mulia, mencerdaskan anak bangsa!, dan tentu demikian juga bagi para pelaku pendidikan, mereka mengemban langsung tugas mulia ini dengan segala kesadaran, segala konsekuensi, segala keterbatasan. Kemuliaan sesungguhnya memang tidak tergantung pada atribut kefavoritan atau segala prestasi membanggakan, tapi pada proses yang sungguh-sungguh memberikan yang terbaik kepada seluruh anak didiknya. Pengemban amanah ini menyadari peran dan kedudukannya, di bagian paling "pinggir" sekalipun mereka tetap dapat melaksanakan tugas mulia ini dengan kemuliaan yang sesungguhnya.

diposting dengan Post2Blog .

Jadi guru idealnya bisa “digugu dan ditiru” jangan sampai menjadi tumbal jaman yang “wagu dan saru”

Jadi guru idealnya bisa "digugu dan ditiru" jangan sampai menjadi tumbal jaman yang "wagu dan saru".

Didepan siswa para guru adalah partner belajar dan menyampaikan pesan moral positif kepada setiap peserta didiknya. Diluar kelas ketika dikantor atau di ruang guru, mereka tetaplah guru yang lingkup bicaranya bermartabat dan bermanfaat, cerdas dan membangun budaya intelektual yang bertanggungjawab. Kadang hal ini terlewatkan dalam jadwal harian seorang guru, terlena dengan pembicaraan yang sangat menarik tentang topik paling panas saat itu, membicarakan kasus selebritis atau pemain panggung politik sampai persoalan ranjang suami istri, tertawa terbahak-bahak dan bergurau saling mengejek atau bahkan berlarian kejar-kejaran diruang itu persis anak TK. Tentu hal itu hanya ilustrasi ekstrim saja yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, hanya mungkin terjadi di sinetron Indonesia. Betulkah?…

Atau penampilan super cool yang berhati-hati dengan tiap kata-katanya, tidak bergurau, tidak berdialog kecuali tentang pelajaran atau hal akademis lainnya, tentu tidak bukan? ruang guru akan menjadi gerbong kematian kedua yang menggerogoti para populis yang butuh terakomodir kebutuhan khususnya.Yang paling pas adalah yang pertengahan. Semua yang "terlalu" mengindikasikan kelebihan menuju keburukan, terlalu ramai, terlalu sepi, terlalu kaya, terlalu miskin, tapi kalau terlalu pintar… mungkin baik-baik saja ya?. Sikap pertengahan ini akan membawa suasana yang kondusif bagi semua pihak dengan semua karakter yang ada. Perbedaan sifat dan sikap akan terjembatani oleh adanya zona pertengahan ini. Lalu siapa yang akan menjadi duta di zona pertengahan ini, apakah setiap guru mempunyai tugas ini, atau beberapa wakil saja yang berkarakter cool ’n funny? atau ini arena bebas yang bisa dimasuki siapa saja? atau mungkin ini urusan Humas? atau kepala sekolah?

Bukan masalah siapa dan kapan tapi apa dan bagaimana.

Setiap pihak dengan kombinasi yang unik dari karakter masing-masing akan mampu menghadirkan zona pertengahan ini sehingga suasana perang, atau panggung lawak yang rasis dan vulgar atau suasana horor yang mencekam tidak terjadi berkelanjutan. Kalau terjadi hanya sesekali dan tidak berlebihan tentu itu adalah bentuk keanekaragaman hayati kan? tentu tidak apa-apa, tapi kalau berulang-ulang atau bahkan menjadi jadwal harian bisa berakibat fatal bagi pertumbuhan otak dan keselamatan jiwa manusia :grin: , paling tidak budaya intelektual yang bertanggungjawab tidak akan terbangun dengan baik.

Menjadi guru idealnya bisa ’digugu dan ditiru" , simbiose mutualisme antar guru dapat membangun ekosistem yang lebih bermartabat dan bermanfaat. Manjadikan mereka para guru lebih pintar tiap harinya, setiap masuk kelas adalah angin yang menyegarkan para muridnya, setiap keluar kelas diiringi applouse selamat jalan menuju pundi-pundi ilmu yang lebih banyak. Ketika diruang guru, mereka mengabarkan pengetahuan yang berwawasan kedepan, sarat ilmu, dan mencerdaskan, nasihat-nasihat, hikmah dan motivasi, dialog spiritual, dan keakraban antar teman sejawat, tata usaha dan atasan yang indah dan menyejukkan.

Ketika kita berkonsentrasi pada bagaimana mendidik murid-murid kita dengan baik, ada baiknya juga kita rehat sejenak dan melihat dunia lain diruang yang lain, yang kadang dijalani tiap hari, tapi tidak kita sadari telah menggerogoti hidup kita, menuju kemunduran kualitas diri.

Kebangkitan

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, momen yang tepat untuk mulai bangkit menciptakan karya baru. Setelah lama hanya sekedar menjadi rencana, kini mulai mewujud, sebuah weblog guru yang mengangkat dunia yang digelutinya : sekolah, pendidikan, kurikulum, bahan ajar, buku, metode pembelajaran, proses KBM, evaluasi pembelajaran, ilmu pengetahuan terutama ekonomi, geografi, sejarah, sosiologi, dan teknologi informasi, desain grafis, pengalaman dengan rekan sejawat dan para siswa, lingkungan hidup dan isu-isu yang pas dan pantas diangkat untuk pengayaan informasi bagi dunia pendidikan.

sebuah langkah kecil di dunia maya, notes kecil di gudang informasi yang melimpah ruah, seandainya perubahan besar tercipta tentulah karena hal-hal kecil yang berperanan. semoga bermanfaat.